BRANDING SIDOARJO: Indonesia’s Best Stopover City

Judul di atas kalau diterjemahkan menjadi SIDOARJO: KOTA PERSINGGAHAN TERBAIK DI INDONESIA. Kota singgah? Apa maksudnya?

Ini adalah satu konsep  Sidoarjo adalah kota tempat singgah/ mampirnya para traveler dari berbagai daerah di Jawa Timur bahkan Indonesia. Di Jawa Timur, Sidoarjo memiliki Bandara Juanda berkelas internasional.

Meremehkan kota singgah? Nanti dulu!  Singapura dulu hanyalah sebuah negara kecil diapit oleh negara yang wilayahnya lebih luas, Malaysia dan Indonesia, Singapura memiliki jurus yaitu membranding dirinya sebagai Negara Transit. Terbukti kemudian justeru dengan brand  “persinggahan” tersebut berkembanglah sektor perdagangan, belanja, wisata dan lainnya sehingga Singapura menjadi negara sebagaimana yang kita kenal sekarang ini. Tempat kunjungan wisatawan, kekuatan ekonomi dan perdagangan.

Jauh sebelum Hongkong dikenal sebagai kota perdagangan, ia memproklamasikan sebagai kota singgah. Bahkan berani memasang judul sebagai Asia’s Best Stopover City.

Kembali ke Sidoarjo. Frame kita untuk menilai haruslah nasional bahkan internasional. Sidoarjo harus menunjolkan apa  bila  ingin  menjadi besar dan disegani di tengah persaingan dibanding kota/kabupaten lain di Indonesia bahkan dibanding dengan kota-kota lain di dunia.

Harus kita akui dan tidak perlu malu. Sidoarjo kalah dari segi budaya dibandingkan dengan Mojokerto dengan Mojopahitnya. Jogja dan Solo dengan Mataramnya. Maka, jangan sekali-kali memakai jargon budaya. Di Sidoarjo tidak ada ikon-ikon Budaya yang berkelas Internasional seperti Kraton Yogyakarta, Borobudur –Prambanan dan lain-lain. Tidak ada panorama alam yang bisa di “jual” seperti Gunung Bromo di Probolinggo.

Sejak dulu, karakter masyarakat Sidoarjo dan budaya yang berkembang di Sidoarjo adalah budaya “campur aduk”. Di Sidoarjo ada budaya arek (Suroboyo), ada budaya Madura dan budaya Mataraman (Madiunan), juga budaya dari para pendatang/ urbanisasi dari berbagai daerah.

Bagaimana bila agama kita jadikan ikon, misalnya “Kota Santri?” Jelas impossible. Di Jawa Timur saja, Sidoarjo kalah terkenal agamisnya dari Jombang (kota pesantren) dan juga Ponorogo (Pondok Gontornya).

Kalau diangkat adalah sektor industri  dan UKM-nya, monggo diteliti dan dikaji secara akademis. Apakah Sidoarjo tidak kalah dengan Pasuruan, Gresik atau Lamongan? Lantas ke depan, setiap daerah akan berlomba-lomba untuk membangun kawasan industri. Kalau Sidoarjo membranded dirinya sebagai kawasan industri, siap-siap tenggelam oleh Kota Tangerang,  Bekasi dan lainnya.

Satu cara agar Sidoarjo menjadi besar adalah membranding dirinya menjadi KOTA  SINGGAH YANG NYAMAN  (Convenient Stopover City) bisa juga KOTA SINGGAH TERBAIK  (Best Stopover City)  dimana menjadi persinggahan/ ampiran yang sangat nyaman dan bahkan bisa tinggal betah berlama-lama di Sidoarjo. Meski wilayah transit,  Sidoarjo menyediakan lapangan kerja dan mata pencaharian yang layak bagi penduduknya, kawasan yang nyaman karena banyak hotel dan tempat-tempat wisata buatan  (bukan alam), wisata kuliner.

Sidoarjo bisa membangun semacam “Taman Mini” dimana seluruh budaya Jawa Timur ada di Sidoarjo. Sidoarjo juga wajib membangun secara optimal seluruh sektor pembangunan baik fisik maupun non fisik (POLEKSOSBUDHANKAM), membangun banyak “Landmark”/penanda/ikon disetiap wilayah sehingga menarik dan atraktif.  Wisatawan yang mampir pun menjadi betah berlama-lama di Sidoarjo sebagaimana wisatawan betah ke Singapura. Akhirnya yang semula hanya TRANSIT, menjadi DESTINASI TUJUAN WISATA!.

Demikian sedikit uraian kami. Terima kasih.

MUHAMMAD WILDAN

PHONE 081234588111

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s