Otokritik: Upaya Wujudkan Manusia Bermental Baja

Inkulturisasi kebudayaan nasional saat ini sedang mendapat tantangan besar, yakni berhadapan dengan kebudayaan global tanpa batas yang membawa arus internasionalisasi ideologi, agama dan teknologi. Kondisi ini harus disikapi bijak oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo  dengan membuka ruang dialog budaya untuk mendukung pembangunan di berbagai bidang.

‘Inkulturasi’ ialah: pengintegrasian budaya lokal ke dalam kebudayaan setempat sedemikian rupa sehingga pengalaman tersebut tidak hanya mengungkapkan diri di dalam unsur-unsur kebudayaan bersangkutan, melainkan juga menjadi kekuatan yang menjiwai, mengarahkan, dan memperbaharui kebudayaan bersangkutan, dan dengan demikian menciptakan suatu kesatuan dan ‘communio’ baru, tidak hanya di dalam kebudayaan tersebut, melainkan juga sebagai unsur yang memperkaya budaya lokal.

Inkulturasi, oleh sebab itu merupakan wahana pertemuan berbagai budaya yang bersifat  khas.  Kenapa begitu? Saat kebinekaan kultur Nusantara mulai banyak mendapat sorotan akibat terpaan arus globalisasi maka tataran praktisnya, inkulturasi merupakan elemen yang mampu membangkitkan sisi-sisi baru pada kebudayaan yang telah tersusun dan hidup selama ratusan tahun. Inkulturasi juga akan mendorong kebudayaan berkembang menjadi lebih semarak dan lebih kaya dari yang sebelumnya  dan akan memproses terjadinya pertemuan (kontak budaya) antara dua budaya atau lebih (kebudayaan asli/lokal dengan kebudayaan asing), dimana kedua kebudayaan tersebut menyatu dan melebur menjadi, dan membentuk budaya baru.

Dari mana inkulturasi itu bermula? Masyarakat akademisi, aktivis sosial budaya, penggerak HAM, agamawan, seniman dan budayawan bahkan politikus serta ekonom bisa mengawalinya dengan mencoba bersama-sama menginventarisasi data dan informasi serta mengolah berbagai permasalahan untuk kemudian dihasilkan usulan pemecahan masalah dan rekomendasi di bidang kebudayaan. Ada tiga aspek yang dibahas yakni aspek alam dan tata nilai (mentifact), relasi sosial-politik dan ekonomi (sociofact) serta produksi seni dan teknologi (artefact).

Tokoh bangsa Prof Dr Ahmad Syafii Maarif berpendapat pendidikan politik di Indonesia belum berhasil mencetak negarawan-negarawan tangguh yang berkarakter petarung, punya visi jauh kedepan serta mencintai tanah airnya. Pendidikan politik saat ini masih sebatas menghasilkan politisi-politisi yang visinya sangat dangkal (hanya berorientasi kekuasaan 5 tahunan) dan transaksional.

Menurut Buya Syafii, gerakan Revolusi Mental yang gulirkan Presiden Joko Widodo, belum sesuai yang diharapankan, karena masih banyak yang bermental ‘meminta-minta’ sehingga hanya menjadi alat para pengusaha (investor). “Mental manusia Indonesia belum menjadi manusia yang merdeka, sehingga perlu kerja keras terutama reformasi birokrasi,” katanya.

Satu langkah yang bisa dipikirkan, kata Syafii, bangsa Indonesia harus mulai berbenah diri dengan melakukan perubahan cara berpikir, sikap dan perilaku. Misalnya mengubah perilaku politik dari yang kurang bermartabat menjadi lebih mengedepankan etika yang menghargai hak dan kewajiban setiap warga negara. Atau dengan memilih seni sebagai sarana kritik terhadap pemerintah, yang lebih santun dan tanpa konfrontatif. “Perlu disusun strategi kebudayaan untuk mendorong Indonesia yang semakin bermartabat,” katanya. Hal ini berkesesuaikan dengan sosiolog Dr Ignas Kleden yang mengatakan bahwa kritik kebudayaan mempunyai makna ganda yaitu kebudayaan sebagai objek kritik dan kebudayaan sebagai sarana kritik. Menurutnya, sebagai sarana kritik, kebudayaan menjadi insturmen untuk melakukan kritik terhadap berbagai objek dan bidang, seperti iptek, politik dan ekonomi demi kemajuan bangsa. Dengan adanya dialektika challenge and response akan memunculkan kreativitas yang tidak terkira besarannya.

@redaksi,2018

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s